TIDUR BERATAPKAN LANGIT

TIDUR BERATAPKAN LANGIT

Karya : Adjie Rukmana

 

 

 

Semilir  angin berhebus menusuk kalbu,,deburan ombak berkejaran menghantam karang,daun – daun yang melambai mingisyaratkan kebahagiaan,siang dengan langit yang benderang telah berganti  jadi malam yang berhias bintang, kebahagiaan dan ketakjuban telah ku temukan  malam ini ,karena aku telah menemukan sesuatu yang ber -beda dalam  hidupku,  yang biasanya aku tidur dengan beralaskan kasur  empuk dengan beratapkan atap rumah dengan empat sudut disekitarnya,tapi malam ini aku menemukan hal yang sebelumnya belum aku rasakan,, malam  ini aku tidur dengan beratapkan langit yang membentang luas,dihiasi gemerlap bintang dan di sertai dewi malam yang  kini telah berseri kembali.

Akupun mulai menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuhku malam ini, begitu terlarut dalam keheningan malam ini,  terdengar sayupan suara syahdu musik melayu di seberang sana , di malam itu aku berharap bintang jatuh melintas dalam tatapan mataku dan seraya dalam benaku mohon permintaan,tapi  bukan maksudku hatiku menyembah bintang  melainkan  aku  hanya memohon kepada sang pencipta  saja,  dalam keheningan sempat aku berpikir bagaimana rakyat jelata tiap malam tidur hanya beratapkan langit  dan rakyat pinggiran tidur hanya beratapkan kolong jembatan saja.

Setelah saya terlelap dalam keheningan malam itu saya memutuskan untuk berjalan dan melihat keadaan di sekitar,  jauh dalam pandangan saya terlihat rakyat pingiran yang tiduran di emperan  toko dan di kolong jembatan, sempat saya menghampiri orang seperti mereka di kolong jembatan dan di bantaran sungai, dan saya bertanya  pada kakek tua yang bersandar dalam  tiang  jembatan  yang sudah kumuh kukuh dan banyak coretan, kakek itu seraya menikmati keadaan di sekitarnya dengan ditemani sebatang cerutu di tangannya, sejalan dengan itu saya merasa kaki saya terasa terhentak seakan mengajak saya untuk menghampirinya, kemudian sayapun memberanikan diri untuk bertanya.

“Apakah kakek nyaman dengan keadaan seperti ini?”(saya bertanya dengan suara parau)

“tentu tidak  nak! (kakek itu menjawab), dengan nada penasaran sayapun terus bertanya kepadanya,”lalu kenapa kakek masih tinggal disini?”

Kakek itu malah tersenyum-senyum, dengan sikapnya yang seperti itu akupun  jadi bingung dibuatnya, dan hatiku sempat bertanya kenapa kok bisa ada senyum dalam kehidupan yang serba kekurangan ini? untuk makan saja kakek ini harus menunggu pemberian dari orang lain dan itupun bila ada yang memberi,”selama ini kakek makan dari mana?”aku bertanya dengan pikiran yang takut menyinggung perasaanya ,”kakek makan bila ada yang memberi makanan  atau kakek mengais makanan dari tong sampah.lalu  aku  bertanya kembali,”kalau misalnya tidak ada yang memberi dan tidak ada makanan sisa dalam tong sampah kakek makan dari mana?” kakek itu merundukan kapala dengan meneteskan air matanya, dan akupun merasa bersalah karena telah menyinggung  perasaanya, tak lama kemudian kakek itu menjawab,”kalau tidak ada itu kakek tidak makan sehari atau dua hari,mungkin kakek harus lebih cekatan saja sama kucing dalam mengais makanan basi ,misalnya tidak ada lagi orang yang peduli sama kakek dan tiada lagi orang yang buang makanan sisa ke tong sampah ,kamu bisa lihat kakek kembali di kolong jembatan ini dengan keadaan terhujur kaku dan di singgapi banyak lalat hijau di tubuh.

Seakan penuh dengan rasa kepanasaranan dan terkejut dengan ucapan si kakek tadi,  hatiku teru di hinggapi rasa ingin tahu bagaimana nasib-nasib rakyat jelata ini.”maksud kakek,meninggal?”ku bertanya dengan kaget dan sedih,”benar nak! untuk itu kamu  patut bersyukur pada tuhan  atas segala rejeki dan nikmat yang telah diberikan kepadamu, dan jangan lupa berterima kasih kepada orang tuamu yang telah membesarkanmu dan memberi kehidupan yang layak,dan kakek berpesan  padamu nak,untuk selalu menjadi orang yang hidup berkecukupan supaya tidak hidup sengsara seperti kakek  dan seandainya kamu nanti memiliki harta lebih jangan lupa bersedekah,dan ketahuilah harta itu hanya titipan tuhan dan  bila kamu punya kekuasaan janganlah kamu murka  dengan kekuasaan kamu itu.”

Akupun termenung mendengarkan  petuah kakek tua tadi dan aku sempat berpikir untuk lebih menghargai dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan tuhan kepadaku, mungkin banyak orang yang kurang beruntung  nasibnya, teringat dalam benaku masih terpendam berbagai keiinginan dan hasrat yang ingin aku raih, misalnya saya sekolah tinggi-tinggi hanya untuk meraih pekerjaan dan memperoleh kekuasaan semata, dan sempat terlintas dalam pikiran saya,bagaimana nasib seperti ini terjadi pada para pejabat dan pengusaha yang setiap harinya hanya memikirkan keuntungan dan kebahagian yang selama ini mereka rasakan,karena segala sesuatu yang mereka inginkan dengan mudahnya mereka dapatkan , berbeda dengan kehidupan para rakyat jelata dan orang –orang pinggiran ,untuk mencari sesuap nasi saja mereka harus banting tulang terlebih dahulu. Aku sangat beruntung  bisa bertemu dengan kakek tua tadi karena banyak pelajaran berharga yang telah saya dapatkan, sayapun berniat mengajak kakek tua tadi makan di sebuah warung nasi kecil di seberang jembatan sana .

 

 

Maaf yaaa………..ceritanya bersambung dulu??

Iklan

Tentang th3cre4tive

Semuanya ingin serba cepat aja!! dan karir lebih penting bagi saya!!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s